Laksamana Laut Cheng Ho (Penugasan LKMM Dasar FPP Undip 2012 by Aisyah Nurhajah-Resume Tokoh Kepemimpinan)

Masuknya Islam ke Indonesia dituliskan oleh sebagian sejarawan terutama sejarawan yang berasal dari Belanda ataupun Barat masuk pada abad ke 13 M, setelah runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit. Padahal pada kenyataannya, Islam sudah masuk jauh sebelum kerajaan Hindu Majapahit mengalami keeruntuhan, yaitu pada abad ke 7. Saat itu Islam diperkenalkan oleh wirausahawan dan pedagang dari Arab dan masuk melalui pasar. Hal ini dibuktikan adanya berita Cina dari Dinasti Tang pada tahun 618 – 907 M yang meyatakan bahwa pada 674 M di pantai barat Sumatra telah terdapat settlement (hunian bangsa Arab Islam) yang menetap disana. Angka tahun tersebut memberikan keterangan adanya hubungan niaga dengan Nusantara Indonesia. Peran wirausahawan Cina Islam dalam dakwahnya pada abad ke 7 M juga tidak pernah disebutkan dalam sejarah masuknya Islam di Indonesia akibat adanya kebijakan penulisan sejarah dari pemerintah kolonial Belanda dengan sejarawan Belandanya atau Barat pada umumnya, masih mempermasalahkan masuknya Islam dari Arab atau India saja. Tidak menambah dengan teori masuknya Islam dari Cina. Walaupun pedagang atau wiraniagawan yang sangat dominan menguasai pasar adalah Cina.

Jarang kita membaca  tentang Laksamana Laut Cheng Ho dalam rangka kunjungan muhibahnya ke Timur Tengah dan Nusantara Indonesia pada tahun 1405-1430 M. pada masa itu, Cina di bawah Dinasti Ming, 1363-1644 M, saat telah berakhirnya masa kekuasaan Dinasti Genghis Khan dan Dinasti Kubilai Khan. Siapakah sebenarnya Laksamana Cheng Ho?

Cheng Ho terlahir dari keluarga pelaut. Ayahnya Ma Haji (1344-1382 M) dan ibunya Oen. Ayahnya seorang pelaut yang memiliki atensi besar terhadap kaum dhuafa. Cheng Ho adalah putra ketiga dari enam bersaudara. Dua pria dan empat wanita. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao / Sam Po Bo, berasal dari provinsi Yunnan. Kadang, ada pula yang memanggil namanya dengan Zheng He atau Cheung Ho dalam dialek Kanton. Menurut beberapa riwayat, nama Muslimnya adalah Haji Mahmud Syams. Cheng Ho lahir pada tahun 1371 M di provinsi Yunan. Laksamana agung ini adalah seorang Muslim yang sangat taat. Ia merupakan keturunan Cina dari Suku Hui. Ia dilahirkan sebagai anak kedua dari pasangan Ma Hazhi dan Wen, ibunya. Sebagai orang Hui-etnis Cina yang sebagian besar pemeluk Islam-Cheng Ho sejak kecil sudah memeluk agama Islam. Kakek dan ayahnya sudah menunaikan rukun haji. Konon, kata hazhi dalam dialek mandarin mengacu pada kata haji.

Cheng Ho juga dikenal sangat peduli dengan kemakmuran masjid. Tahun 1413, dia merenovasi Masjid Qinging (timur laut Kabupaten Xian). Tahun 1430, ia memugar Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar. Pemugaran masjid mendapat bantuan langsung dari kaisar.

Pada tahun 1363-1644 M, di masa kekaisaran Yung Lo dari Dinasti Ming, mengangkat Cheng Ho kelahiran Yunan, beragama Islam, sebagai Laksamana Laut. Cheng Ho ditugaskan memimpin kunjungan muhibah pada 1405-1431 M ke 36 negara. Tujuannya adalah untuk mengangkat nama baik Cina yang telah terkesan rusak oleh adanya invasi Genghis Khan ke Asia, Timur Tengah dan Eropa. Menurut Lee Khoon Choy dalam Indonesia Between Myth and Reality, kunjungan muhibah tersebut disertai 27.000 pasukan muslim dan 42 kapal.

Mengapa Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming, 1363-1644 M menugaskan Laksamana Laut Cheng Ho yang Muslim pada 1405-1431 M dengan membawa  pasukan muslim Cina dalam jumlah besar? Tujuan kebijakan politik Kaisar Yung Lo itu memberitahukan ke dunia luar, rasa simpati Cina yang besar terhadap Islam, sekaligus menunjukkan ke Dunia Muslim bahwa Cina memiliki pasukan Muslim dalam jumlah besar.  Selain itu juga memberitahukan ke negara-negara beragama bahwa kemerdekaan beragama di Cina terjamin. Tidak terjadi pertentangan antara penganut Kong Fu Tsu, Laotse, Kristen Nestorian dan Islam. Dari hal tersebut dapat dinilai bahwa Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming, 1363-1644 M memiliki jiwa yang besar dan kesanggupan menempatkan Muslim Cina untuk duduk dalam pimpinan militernya.  Kebijakan Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming, 1363-1644 M, terbaca politik pendekatan Islamnya, tidak beda dengan kebijakan Dinasti Tang 618-907 M dan Dinasti Kubilai Khan, 1209-1294 M. Dikisahkan bahwa kaisar Huang-wu, pendiri Dinasti Ming memberikan berbagai hak istimewa kepada umat Islam seehingga umat Islam memperoleh kemakmuran sampai masa akhir Dinasti Ming, 1363-1644 M.

Perjalanan muhibah Laksamana Agung Muslim Cheng Ho dengan armada raksasa yang menakjubkan, namun terkalahkan oleh kisah perjalanan Christopher Colombus ke Amerika dan Vasco Da Gama ke India. Padahal, armada kapal Colombus  dan Vasco Da Gama cukup ditempatkan di satu geladak kapal armada Cheng Ho. Dalam National Geographic Indonesia, Frank Viviano menambahkan bahwa jumlah Kapal Harta atau Baochuan yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho berjumlah 42 buah. Dengan ukuran panjang 120 meter, bagian terdalam 50 meter dengan 9 buah tiang dan geladak utama seluas 4.600 m2. Kapal tersebut diawaki oleh 30.000 pelaut dan marinir, 7 orang kasim berpangkat tinggi dan ratusan pejabat Ming, 180 tabib dan sejumlah pakar perkapalan, herbalis, pandai besi, tukang jahit, koki, akuntan, wiraniagawan dan penerjemah. Rangka layar kapal terdiri dari bambu Tiongkok. Selama berlayar mereka membawa perbekalan yang beragam termasuk binatang seperti sapi, ayam dan kambing yang kemudian dapat disembelih untuk para anak buah kapal selama di perjalanan. Selain itu, juga membawa begitu banyak bambu Tiongkok sebagai suku cadang rangka tiang kapal berikut juga tidak ketinggalan membawa kain Sutera untuk dijual.

Perbandingan antara kapal Cheng Ho (“kapal harta”) (1405) dengan kapal “Santa MariaColombus (1492/1493). Kapal Harta Cheng Ho, memiliki panjang 120 m dan lebar sekitar 52 m, sedangkan Kapal Santa Maria Colombus memiliki panjang sekitar 23 m dan lebar sekitar 5 m.

Perjalanan Laksamana Cheng Ho dari daratan Cina ke wilayah Asia Afrika berlangsung dari 1405-1433 M. Terbagi dalam tujuh tahapan perjalanan. Pertama, 1405-1407 M, armada berangkat dari Nanking dengan membawa sutera, porselin, rempah-rempah. Di selat Malaka membasmi perompak dan mendarat di Sumatra, Srilangka dan India. Kedua, 1407-1409 M, armada memulangkan para duta asing dari Sumatra, India dan wilayah lain yang pernah didatangi Cina, sekaligus bertujuan menjalin hubungan niaga dengan negara-negara yang didatanginya di Samudra India. Ketiga, 1409-1411 M, armada memberikan  hadiah ke Kuil buddha di Srilangka. Keempat, 1413-1415 M, armada berlayar melewati India, menuju ke Hormuz Iran. Kelima, 1416-1419 M, armada harta Cheng Ho untuk pertama kalinya singgah di Semenanjung Arab dan Afrika, menghadiahkan zebra, singa dan burung onta. Keenam, 1421-1422 M, meningkatkan hubungan diplomatik dengan negara-negara yang dikunjunginya dengan menghantarkan pulang dari Cina dan membawa kembali duta barunya ke Cina. Ketujuh, 1431-1433 M, perjalanan terakhir ke Swahili Afrika Timur dan Makkah.

Armada yang kuat itu dijadikan media meningkatkan hubungan diplomatik dan kewiraniagaan. Tidak lupa membantu pengamanan wilayah laut dari perompak, ikut serta membangun sarana kelautan, pelabuhan laut dan mercusuar di Cirebon, disertai dengan pembangunan rumah ibadah. Kunjungan muhibah Laksamana Laut Cheng Ho denagn pasukan sangat besar tersebut digunakan untuk membantu menciptakan keamanan di perairan  Indonesia, membasmi perompak Cina. Kunjungan ke Nusantara, selain ke Kesultanan Samodra Pasai, Palembang, Pulau Bangka, juga ke Kalapa atau Jakarta, Muara Jati Cirebon. Di Cirebon, Cheng Ho membantu pembangunan mercusuar. Di Semarang, membangun Masjid Sam Po Kong yang pada kelanjutannya berubah menjadi kelenteng. Selain itu, Cheng Ho singgah juga ke Tuban, Gresik dan Surabaya. Di daerah-daerah itu, kunjungan Laksamana laut Cheng Ho berpengaruh besar terhadap dakwah Islam di Nusantara Indonesia. Tidak sebatas terhadap pertumbuhan politik Islam di Nusantara. Namun juga, meluasnya jumlah penganut islam di kalangan Cina saat itu.

Cheng Ho adalah penjelajah dengan armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia yang pernah tercatat. Juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Selain itu beliau adalah pemimpin yang arif dan bijaksana, mengingat dengan armada yang begitu banyaknya beliau dan para anak buahnya tidak pernah menjajah negara atau wilayah dimanapun tempat para armadanya merapat. Berdasarkan artikel dari Wikipedia, Majalah Life menempatkan Laksamana Cheng Ho sebagai nomor 14 orang terpenting dalam milenium terakhir. Perjalanan Cheng Ho ini menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Pada ekspedisi terakhir (1431-1433), ia sempat menunaikan ibadah haji sebagai pelengkap menjadi seorang Muslim sejati. Sebagai seorang Muslim, ia juga selalu mengandalkan diplomasi damai dalam setiap pelayarannya. Hamka mengatakan, ”senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal itu, yang banyak adalah ‘senjata budi’ yang akan dipersembahkan kepada raja-raja yang diziarahi.”

Sumber Referensi :

Suryanegara, A. M. 2009. Api Sejarah 1. Bandung, Salamadani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s